love ~ love ~ love ~love

love ~ love ~ love ~love

Kamis, 15 April 2010

TERAPI BERMAIN

Definisi

Terapi bermain adalah salah satu terapi yang menggunakan segala kemampuan bermain dan alat permainan, anak bebas memilih permainan yang ia sukai dan perawat ikut serta dalam permainan tersebut. Dan berusaha agar anak bebas mengungkapkan perasaannya sehingga ia merasa aman, puas dan dihargai (Fortinash and Warrel, 1995). Terapis yang cakap menggunakan teknik ini sebagai metode untuk mengenal gangguan emosional pada anak (Wong and Whaley, 1996).

Menurut Thompson ED. (1992) prinsip bermain di rumah sakit adalah :

a. Kelompok umur yang sama

Permainan akan lebih efektif apabila dilaksanakan dalam kelompok umur yang sama agar jenis permainan yang diberikan dapat disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan anak.

b. Pertimbangan keamanan dan infeksi silang

c. Permainan yang digunakan hendaknya yang mudah dicuci agar infeksi silang dapat dihindari

d. Tidak banyak energi serta permainan singkat

Anak yang sakit biasanya tidak memiliki energi yang cukup untuk bermain sehingga permainan yang diberikan harus merupakan permainan yang tidak menguras tenaga energi yang besar

e. Waktu bermain perlu melibatkan orang tua

Bila kegiatan bermain dilakukan bersama orang tua, maka hubungan orang tua dengan anak akan lebih akrab dan kelainan atau perkembangan penyakit dapat segera diketahui secara dini.

Tekhnik Bermain di Rumah Sakit

a. Berikan alat permainan untuk merangsang anak bermain sesuai dengan umur perkembangannya

b. Berikan cukup waktu dalam bermain dan menghindari interupsi

c. Berikan permainan yang bersifat mengurangi sifat emosi anak

d. Tentukan kapan anak boleh keluar atau turun dari tempat tidur sesuai dengan kondisi anak

Ciri Bentuk Permainan pada Anak Usia Pra Sekolah

Karakteristik bermain pada anak usia pra sekolah berdasarkan isi permainannya menurut Wong and Whaley (1996) antara lain :

· Solitary Play : Anak bermain sendiri dan mencari kesibukan sendiri.

· Parallel Play : Anak bermain dengan permainan yang sama tanpa ada tukar menukar alat permainan dan tanpa ada komunikasi satu sama lain

· Assosiatif Play : Anak bermain bersama-sama temannya dan masing-masing anak bermain berdasarkan keinginannya tetapi tidak ada tujuan group

· Cooperative Play : Anak bekerja sama dan berkoordinasi dalam alat-alat dan peranan-peranan; ada perjanjian dan pembagian tugas

Sedangkan bermain menurut karakteristik sosial adalah :

§ Sosial Affektive Play : Permainan yang mengarahkan anak untuk belajar bersosialisasi dengan orang lain; misal permainan kucing-kucingan dan permainan sembunyi-sembunyian.

§ Sense of Pleasure Play : Permainan yang dilakukan untuk mencapai suatu kesenangan, misal bermain air dan bermain tanah.

§ Dramatic play Role Play : Anak bermain menggunakan simbol-simbol dalam permainan. Anak mulai berfantasi dan belajar dari model keluarga; misal peran guru, ibu dan perawat. Menurut Wong and Whaley (1996) Dramatik play adalah permainan yang membantu anak mengungkapkan perasaan, ketakutan atau kesulitan yang dialami di rumah sakit dengan menggunakan boneka kesayangannya, peralatan rumah sakit tiruan dan alat rumah tangga tiruan.

Dramatic play membantu anak belajar tentang prosedur yang dilakukan pada mereka dan berperan sebagai petugasnya.

§ Skill play : Permainan pada anak yang sifatnya membina keterampilan; misal bermain roda tiga dan bermain sepatu roda.

Adapun bentuk permainan yang sesuai dengan anak usia pra sekolah (Mottet al, 1994 dan Syamsu Yusuf; 2001) antara lain :

a. Anak usia 2-3 tahun

Bermain boneka, kegiatan belajar, melemparkan dan memungut benda-benda (seperti bola) serta memasukkan atau mengeluarkan benda-benda dari tempatnya.

b. Anak usia 3-4 tahun

Bermain puzzel, balon, musik, bercerita, bermain game sederhana, belajar bermain kelompok dengan pengawasan orang dewasa, permainan pura-pura memasak, membersihkan, menjadi dokter, perawat dan lain-lain.

c. Anak usia 4-5 tahun

Bermain game, menyobek, memotong dengan gunting, buku bergambar, menggunakan kertas dibuat boneka, topeng dan perahu, memiliki mainan sendiri, mainan musik (drum), berfantasi, berimajinasi dan menggambar.

d. Anak usia 5-6 tahun

Menangkap bola, membuat gambar segiempat, mengenal angka dan huruf serta berhitung dan berpakaian sendiri tanpa bantuan.

Terapi Bermain sebagai upaya menurunkan tingkat kecemasan pada anak. Setiap anak meskipun sedang dalam perawatan tetap membutuhkan aktivitas bermain. Bermain dapat memberikan kesempatan pada anak untuk menyelesaikan tugas perkembangan secara normal dan membangun koping terhadap stres, ketakutan, kecemasan, frustasi dan marah terhadap penyakitnya dan hospitalisasi (Mottet al, 1990).

Permainan yang sesuai dengan usia anak merupakan alat untuk merealisasikan keperawatan, medis dan tujuan pengobatan. Bermain menyediakan kebebasan untuk mengekspresikan emosi dan memberikan perlindungan anak terhadap stres, sebab bermain membantu anak menanggulangi pengalaman yang diharapkan kecemasan anak bisa menurun sehingga anak lebih kooperatif dalam menjalani perawatan di rumah sakit.

Secara psikologis, bermain mempunyai nilai-nilai yang sangat berharga bagi anak, diantaranya anak memperoleh perasaan senang, puas, meredakan ketegangan dan memberikan kesimpulan pada anak untuk mengekspresikan emosinya sehingga anak memberikan respon kooperatif (Syamsu Yusuf, 2001). Bermain pada dasarnya adalah pengobatan (Mott et al, 1990). Anak-anak membutuhkan bantuan dalam menghubungkan fantasi, ketakutan dan kecemasannya. Selama bermain, fisik anak menjadi lebih aktif dan penggunaan sekelompok otot yang meningkatkan perkembangan biofisik dan membantu penyembuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar