love ~ love ~ love ~love

love ~ love ~ love ~love

Selasa, 13 April 2010

MENOPAUSE

a। पेंगेर्तियन menopause

menopause adalah berasal dari kata “men” berarti bulan, “pause, pausis, paudo” berarti periode atau tanda berhenti, hilangnya memopause diartikan sebagai berhentinya secara definitif menstruasi (Kartono, 2007).

Pada usia 45 sampai 50 tahun, siklus seksual biasanya tidak teratur, dan ovulasi tidak terjadi selama beberapa siklus. Sesudah beberapa bulan sampai beberapa tahun, siklus terhenti sama sekali. Periode dimana siklus berhenti dan hormon-hormon kelamin wanita menghilang dengan cepat sampai hampir tidak ada disebut sebagai menopause (Guyton & Hall, 1997).

b. Periode terjadinya menopause

Menurut Damayanti 2003 cit Purwanto, menopause dipacu oleh perubahan hormon dalam tubuh, yang diawali dengan terkelupasnya pelepas rahim (endometrium) bersama dengan sedikit darah, yang dipicu oleh kadar hormon progesteron yang rendah dalam tubuh. Pada waktu yang sama hormon perangsang folikel (FSH= Folicle Stimulating Hormone) dan hormon lutein (Luteinizing Hormone) yang dihasilkan kelenjar hipofise merangsang proses pematangan telur dalam ovarium. Keadaan ini kemudian menghasilkan peningkatan kadar estrogen dan disebut fase pengelupasan.

Fase pengelupasan akan segera diikuti fase proliferasi dimana kadar estrogen tinggi dan membuat endometrium mengalami penebalan. Akhirnya kadar hormon perangsang folikel dan hormon lutein mencapai puncaknya dan terjadi pelepasan sel telur dari ovarium (ovulasi). Folikel tempat sel telur dilepaskan akan membentuk sebuah kelenjar yang disebut corpus luteum yang menghasilkan progesteron, yang akan membuat kelenjar endometrium mengalami fase sekresi sebagai persiapan bila terjadi perubahan, sehingga siap untuk suatu kehamilan. Jika sel telur tidak dibuahi, kadar estrogen menurun corpus luteum mengalami degenerasi dan kadar progesteron menurun.

Wanita dilahirkan dengan sejumlah besar sel telur yang secara bertahap akan habis terpakai. Ovarium tidak mampu membuat sel telur yang baru, sehingga begitu sel telur yang dimiliki sejak lahir habis, maka ovulasi akan berhenti sama sekali. Jadi terdapat semacam kekurangan hormon yang menyebabkan sebagian besar masalah yang terjadi disekitar menopause, yang berkembang sesudahnya. Ada tiga macam hormon penting yang diproduksi oleh ovarium, yaitu estrogen, progesteron, dan testoteron, dimana setelah mencapai menopause hormon-hormon ini tidak diproduksi.

Mengenai terjadinya menopause, tidak ada batasan umur yang pasti. Sehubungan dengan itu para ahli memberikan batasan umur pada wanita menopause berbeda-beda, karena ditinjau dari sudut yang berbeda pula. Sebagian besar wanita mengalami menopause antara umur 40 tahun dan 55 tahun, rata-rata pada umur 47 tahun.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa periode terjadinya menopause ketika persediaan sel telur habis, indung telur mulai menghentikan produksi estrogen yang akibatnya haid tidak muncul lagi। Pada wanita tersebut menginjak masa menopause, yang berarti berhentinya masa kesuburannya (Purwanto, 2007).


c. Fase Menopause

1). Pramenopause adalah fase antara usia 40 tahun, ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur dengan perdarahan haid yang memanjang (oligomenohore) dan jumlah darah haid yang relatif banyak (hypermenorhoe) dan terkadang disertai dengan nyeri haid (dismenore). Perubahan endokrinologik yang terjadi adalah fase folikuler yang memendek dan kadar estrogen yang tinggi sehingga terjadi perangsangan ovarium yang berlebihan (hiperstimulasi)

2). Perimenopause adalah fase peralihan antara pramenopause dan pascamenopause. Keluahan yang sering dijumapi adalah berupa gejolak panas (hot flushes), berkeringat banyak, insomnia, depresi, serta perasaan mudah tersinggung.

3). Menopause adalah haid alami yang terakhir, dan hal ini tidak terjadi bila menggunakan kontrasepsi hormonal pada usia perimenopause.

4). Pascamenopause adalah masa yang berlangsung kurang lebih 3-5 tahun setelah menopause. Kelenjar adenal merupakan sumber androgen utama bagi wanita pascamenopause. Keluhan lokal pada sisitem urogenital bagian bawah, atrofi vulva dan vagina menimbulkan berkurangnya produksi lendir atau timbulnya nyeri senggama (Baziad, 2003)।


d. Etiologi menopause

Penyebab menopause adalah “matinya” {burning out) ovarium. Sepanjang kehidupan seksual seseorang wanita kira-kira 400 folikel primordial tumbuh menjadi folikel vasikuler dan berovulasi, sementara beratus-ratus dari ribuan ovum berdegenerasi. Pada usia sekitar 45 tahun, hanya tinggal beberapa folikel primordial yang akan dirangsang oleh FSH dan LH dan produksi estrogen dari ovarium berkurang sewaktu jumlah folikel primordial mencapai nol (Guyton & Hall, 1997).

Menurut Ruripamela, 2008. menyatakan bahwa penyebab menopause adalah menurunnya fungsi ovarium (indung telur) akibat penuaan yang menyebabkan berkurangnya kadar hormon wanita, estrogen dan progesteron Menurut penyebabnya menopause dapat dibagi menjadi dua yaitu :

1). Menopause Dini, adalah menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun. Kemungkinan penyebabnya adalah faktor keturunan, penyakit autoimun dan rokok

2). Menopause Buatan, terjadi akibat campur tangan medis yang menyebabkan berkurangnya atau berhentinya pelepasan hormon oleh ovarium. Campur tangan ini berupa pembedahan untuk mengangkat ovarium atau untuk mengurangi aliran darah ke ovarium serta kemoterpi atau terapi penyinaran pada panggul untuk mengobati kanker. Histerktomi (pengangkatan rahim) menyebabkan berakhirnya siklus menstruasi।


e. Gejala- gejala menopause

1). Gangguan pada haid : haid menjadi tidak teratur.

2). Gelombang rasa panas (hot flush), terjadi akibat peningkatan aliran darah didalam pembuluh darah pada wajah, leher, dada, dan punggung. Kulit menjadi merah dan hangat disertai keringat yang berlebihan. Parasaan panas ini berlangsung beberapa detik saja (30 detik sampai 5 menit), namun bisa berlangsung sampai 30 menit sampai 1 jam.

3). Gejala-gejala psikologis berupa suasana hati, pikiran motivasi, sikap, reaksi biologis.

4). Fatigue, yaitu rasa lelah yang diakibatkan berhentinya fungsi ovarium.

5). Keadaan atrofi, yaitu kemunduran keadaan gizi, suatu lapisan jaringan.

6). Rasa gatal-gatal pada genetalia disebabkan karena kulit yang menjadi kering dan keriput akibat penipisan jaringan pada dinding vagina.

7). Pusing atau sakit kepala, keluhan ini bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya: karena meningginya tekanan darah, adanya gangguan penglihatan.

8). Insomnia atau keluhan susah tidur, hal ini bisa disebabkan oleh penyebab fisik maupun psikis.

9). Hilangnya kendali terhadap kandung kemih (inkontinensia) serta peradangan pada kandung kemih dan vagina (Purwanto, 2007)।


f. Faktor yang mempengaruhi menopause

Menurut Yatim (2001) ada beberapa faktor yang mempengaruhi kapan seorang wanita mengalami menopause yaitu :

1). Umur sewaktu mendapat haid pertama kali (menarche), beberapa penelitian menemukan adanya hubungan antara usia pertama kali mendapat haid dengan usia seorang wanita memasuki masa menopause. Dari hasil penelitian disebutkan bahwa semakin muda seseorang mengalami haid pertama kalinya, semakin tua atau lama ia memasuki masa menopause.

2). Kondisi kejiwaan dan pekerjaan, ada peneliti yang menemukan bahwa pada wanita yang tidak menikah dan bekerja, umur memasuki menopause lebih muda dibandingkan dengan wanita sebaya yang tidak bekerja dan menikah.

3). Jumlah anak, meskipun belum ditemukan hubungan antara anak dan menopause, tetapi beberapa penelitian menemukan bahwa semakin sering wanita melahirkan maka semakin tua atau lama mereka memasuki masa menopause.

4). Penggunaan obat-obat KB, obat-obat KB akan menekan fungsi hormon dari indung telur, sehingga wanita yang menggunakan pil KB lebih lama memasuki umur menopause.

5). Merokok, wanita perokok akan lebih muda memasuki menopause dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok.

6). Sosial ekonomi, seperti juga usia pertama kali mendapat haid, menopause kelihatannya dipengaruhi oleh faktor status sosial ekonomi, disamping pendidikan dan pekerjaan suami. Begitu juga hubungan tinggi badan dan berat badan wanita yang bersangkutan termasuk dalam pengaruh sosial ekonomi.

7). Cuaca dan ketinggian tempat tinggal dari permukaan laut, dari penelitian yang masih sedikit dilakukan, wanita yang tinggal di ketinggian lebih dari 2000-3000 m dari permukaan laut lebih cepat 1-2 tahun memasuki usia menopause dibandingkan dengan wanita yang tinggal di ketinggian <>


g. Perubahan tubuh menjelang menopause

Menurut Kesdu (2002) perubahan yang terjadi menjelang menopause antara lain:

1). Perubahan organ reproduksi

a) Rahim, mengalami atrofi (keadaan kemunduran gizi jaringan), panjangnya menyusut, dan dindingnya menipis. Jaringan miometrium (otot rahim) menjadi sedikit dan lebih banyak mengandung jaringan fibriotik (sifat berserabut secara berlebihan). Lipatan - lipatan saluran menjadi lebih pendek, menipis, dan mengkerut. Rambut getar yang ada pada ujung saluran telur atau fimbria menghilang.

b) Serviks (leher rahim), mengalami pengerutan, memendek dan menyusut tidak menonjol kedalam vagina, bahkan akan merata.

c) Vagina, menglami kontraktur (melemahnya otot jaringan), panjang dan lebar vagina juga mengalami pengecilan. Forniks (dinding vagina bagian belakang dekat mulut rahim) menjadi dangkal. Atrofi vagina berangsur-angsur menghilang. Selaput lendir alat kelamin akan menipis dan tidak lagi mempertahankan elastisitasnya akibat fibrosis.

d) Indung telur, perubahannya adalah ukuran indung telur mengecil dan permukaannya akan menjadi keriput sebagai akibat atrofi dari medulla (sumsum), terjadi sklerosis (penebalan) dini pada sistem pembuluh darah indung telur, siklus menjadi anovulasi (tidak ada ovulasi), folikel primer (pertumbuhan sel telur awal) tidak dapat matang secara baik disamping tingginya kadar hormon gonadotropin, produksi hormon estrogen turun sehingga tidak terjadi perubahan endometrium; FSH dan LH meningkat tetapi plasma estradiol (bentuk dari estrogen) sangat rendah.

e) Vulva (mulut kemaluan), jaringan menipis karena berkurangnya dan hilangnya jaringan lemak dan jaringan elastik. Kulitnya menipis dan pembuluh darah berkurang sehingga menyebabkan pengerutan lipatan vulva. Terjadi gangguan rasa gatal dan mengkerutnya lubang masuk kemaluan sehingga terasa nyeri waktu senggama.

2). Perubahan hormon, hal ini disebabkan tidak tumbuhnya selaput lendir rahim. Menurut Rachman (2000) perubahan yang terjadi pada tubuh adalah:

a) Keluhan vasomotorik (saraf yang mempengaruhi penyempitan atau pelebaran pembuluh darah) berupa hot flushes (gejolak panas), vertigo, keringat banyak, rasa kedinginan.

b) Keluhan kontitusional berupa berdebar-debar, migrain, nyeri otot, nyeri pinggang, dan mudah terangsang.

c) Keluhan psikis dan neurotik berupa depresi, merasa tertekan, kelemahan psiskis, dan somatik, susah tidur, terasa ketakutan, konflik keluarga, gangguan di tempat kerja.

d) Keluhan lainnya berupa sakit saat bersenggama, gangguan haid, keputihan, gatal pada vagina, susah kencing, libido menurun, keropos tulang, gangguan sirkulasi, kenaikan kolestrol.

3). Perubahan fisik

a) Hot flushes (perasaan panas), gejala ini sering timbul pada malam hari pada keadaan cuaca yang dingin, gejolak panas terjadi lebih jarang dan singkat dibandinkan dengan jika suasana panas. Dalam keadaan stres, hal ini akan lebih sering timbul. Gejolak panas timbul ketika wanita akan memasuki usia menopause atau pada saat menopause.

b) Keringat berlebihan, suhu udara yang semula dirasakan nyaman mendadak menjadi terlalu panas serta mengeluarkan keringat pada malam hari.

c) Vagina kering, sehingga dapat menimbulkan rasa sakit pada saat berhubungan intim. Selain itu akibat berkurangnya estrogen menyebabkan keluhan gangguan pada epitel vagina, jaringan penunjang, dan elastisitas dinding vagina. Padahal, epitel vagina mengandung banyak reseptor estrogen yang sangat membantu mengurangi rasa sakit dalam berhubungan seksual.

d) Tidak dapat menahan air seni, ketika usia bertambah tua, air seni sering tidak dapat ditahan pada saat bersin atau batuk. Hal ini akibat estrogen yang menurun sehingga salah satu dampaknya adalah inkontinensia urin (tidak dapat mengendalikan fungsi kendung kemih).

e) Hilangnya jaringan penunjang, rendahnya kadar estrogen dalam tubuh berpengaruh pada jaringan kolagen yang berfungsi sebagai jaringan penunjang pada tubuh. Hilangnya kolagen menyebabkan kulit kering dan keriput, rambut terbelah-belah, rontok, gigi mudah goyang dan gusi berdarah, sariawan, kuku rusak serta timbulnya rasa sakit dan ngilu pada persendian.

f) Penambahan berat badan, saat wanita mulai menginjak usia 40 tahun, biasanya tubuhnya menjadi gemuk, tetapi sebaliknya sangat sulit menurunkan berat badannya. Hal ini diduga ada hubungannya dengan turunnya estrogen dan gangguan pertukaran zat dasar metabolisme lemak. Selain itu, kulit pun menjadi lebih kendor sehingga mudah menjadi tempat simpanan lemak.

g) Gangguan mata, kurang dan hilangnya estrogen mempengaruhi produksi kelenjar air mata sehingga mata terasa kering dan gatal.

h) Nyeri tulang dan sendi, seiring meningkatnya usia maka beberapa organ tidak lagi mengalami remodeling, diantaranya tulang. Bahkan mengalami proses penurunan karena pengaruh dari perubahan organ lain selain itu penyakit yang timbul semakin beragam.

i) Mammae (payudara) jaringan lemak berkurang, puting susu mengecil akibatnya payudara mulai lembek, mengendor dan keriput.

j) Pubis (rambut kemaluan) pada wanita mulai menipis, sebagian rontok dan mulai memutih.

4). Perubahan emosi, perubahan psikis pada masa menopause sangat tergantung pada pandangan masing-masing wanita terhadap menopause, informasi tentang menopause yang diperoleh. Pengetahuan yang cukup akan membantu mereka memahami dan mempersiapkan dirinya menjalani menopause dengan lebih baik.

h. Gangguan kesehatan yang timbul setelah menopause

1). Hipertensi : turunnya hormon estrogen dan prigesteron. Wanita yang semasa haid masih relatif “kebal” terhadap penyakit aterosklerosis (perkapuran dinding pembuluh darah), setelah menopause mulai bisa diserang penyakit ini, yang berakibat penyakit tekanan darah tinggi (hipertensi) dan penyempitan pembuluh darah jantung (penyakit jantung koroner).

2). Osteoporosis (pengeroposan tulang), dengan turunnya kadar hormon estrogen dan progesteron, maka mulai terjadi proses pengeroposan tulang (walaupun wanita cukup mendapat tambahan calcium seperti dari susu). Rendahnya kadar hormon estrogen dan progesteron menyebabkan zat calcium atau kapur tidak dapat disimpan dalam tulang, sebaliknya calcium dalam tulang pelan-pelan menyusut. Tandanya adalah mulai terasa nyeri pada tulang yang dianggap sebagai “rematik” (Handrawan, 2007).

3). Penyakit lambung dan kesulitan pada alat pencernaan, hyperthryreosis (kepekaan pada kelenjar gondok), perubahan warna kulit (Kartono, 2007).

i. Cara mencegah pemunculan gejala-gejala menopause

Kegiatan-kegiatan yang dapat mencegah pemunculan gejala-gejala menopause adalah :

1). Olah raga, tetap berusaha agar hidup aktif akan menekan gajala insomnia, memperlambat osteoporosis dan penyakit jantung, dan juga mencegah “hot flashes”

2). Berhenti merokok, merokok sebenarnya ikut mempercepat munculnya menopause.

3). Mengkonsumsi kalsium, perempuan terutama menjelang usia menopause sebaiknya mengkonsumsi kalsium. Sebagian besar dapat diperoleh dari makanan, seperti susu, yoghurt, beberapa jenis sayuran (antara lain brokoli), dapat juga makan tablet kalsium.

4). Vitamin tambahan, sebagian besar vitamin yang diperlukan tubuh sudah diperoleh melalui makanan kita sehari-hari. Tetapi adakalanya terutama mereka yang aktif, memerlukan juga tambahan vitamin. Vitamin yang diperlukan antara lain B1, B2, B12, asam folat dan terutama bagi mereka yang menginjak usia menopause memerlukan vitamin-vitamin aktioksidan seperti vitamin A dan E.

5). Kedelai, kedelai mengandung fitoestrogen atau estrogen yang berada dari tumbuh-tumbuhan. Kedelai dapat kita konsumsi dari kecap, tempe, tahu, tauco, atau susu kedelai (Handrawan, 2007).

Menurut Tabloid Nova, 2008 dalam menghadapi menopause terdapat beberapa tips, antara lain adalah :

1). Jika wanita tersebut tidak suka susu, bisa diganti dengan mengkonsumsi tahu, tempe, atau sayur dengan dosis yang lebih besar.

2). Jangan terlalu lama saat merebus sayur, karena vitaminnya akan larut dalam air. Begitu pula saat memasak, menggoreng atau memanggang daging atau produk hewan lain.

3). Setiap kali makan, pilih satu saja makanan yang digoreng, menu lainnnya dimasak dengan cara lain. Sehingga tidak memperbanyak masuknya minyak dalam tubuh.

4). Jangan sembarangan mengkonsumsi vitamin A dan D. dosisnya harus tepat, karena kedua vitamin itu tidak bisa dikeluarkan begitu saja dari dalam tubuh selain itu jika terus dikonsumsi bisa menimbulkan racun didalam tubuh.

5). Minuman dan makanan yang harus dihindari untuk memperlambat datangnya menopause antara lain kafein, kopi, alkohol, minuman bersoda, rempah-rempah dan makanan berlemak.

6). Bersikap sabar dan berusaha menerima kenyataan, karena bagaimana pun menopause pasti akan segera datang।


j. Pengobatan menopause

Tidak semua wanita pasca menopause perlu menjalani Terapi Sulih Hormon (TSH). Setiap wanita sebaiknya mendiskusikan resiko dan keuntungan dari TSH dengan dokter pribadinya. Banyak ahli yang menganjurkan TSH dengan tujuan untuk: mengurangi gejala menopause yang tidak diinginkan, membantu mengurangi kekeringan pada vagina, mencegah terjadinya Osteoporosis.

Beberapa efek samping dari TSH, adalah perdarahan vagina, nyeri payudara, mual (Naucea), muntah (Vomiting), perut kembung, kram perut. Biasanya terapi sulih hormon esrogen tidak dilakukan pada wanita yang menderita : kanker payudara atau kanker endometrium stadium lanjut, perdarahan kelamin dengan penyebab yang tidak pasti, penyakit hati akut

(Anonim, 2004).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar