love ~ love ~ love ~love

love ~ love ~ love ~love

Selasa, 13 April 2010

Pendidikan Kesehatan

a. Definisi pendidikan kesehatan

Pendidikan tidak lepas dari proses belajar, dan faktor-faktor manusia yang berperan dalam proses belajar adalah kematangan, pengetahuan dan motivasi. Menurut Notoadmodjo (2003), pendidikan kesehatan adalah suatu bentuk intervensi atau upaya yang ditujukan kepada perilaku, agar perilaku tersebut kondusif untuk kesehatan.

Menurut Azwar cit Machfoedz (2006), pendidikan kesehatan adalah sejumlah pengalaman yang berpengaruh secara menguntungkan terhadap kebiasaan, sikap, dan pengetahuan yang ada hubungannya dengan kesehatan perseorangan, masyarakat, dan bangsa.

b. Tujuan pendidikan kesehatan

Untuk mengubah pemahaman perilaku belum sehat menjadi perilaku sehat. Menurut Machfoedz (2006) cit Azwar (1983: 18), membagi menjadi 3 macam, yaitu:

1).Perilaku yang menjadikan kesehatan sebagai suatu yang bernilai di masyarakat sehingga kader kesehatan mempunyai tanggung jawab didalam penyuluhannya mengarahkan cara hidup sehat menjadi kebiasaan masyarakat sehari-hari.

2) Secara mandiri mampu menciptakan perilaku sehat bagi dirinya sendiri maupun kelompok, dalam hal ini pelayanan kesehatan dasar diarahkan agar dikelola sendiri oleh masyarakat dalam bentuk yang nyata contohnya adalah posyandu.

3) Mendorong perkembangan dan penggunaan sarana pelayanan kesehatan yang ada secara tepat.

  1. Batasan pendidikan kesehatan

Dari batasan ini tersirat unsur-unsur pendidikan yakni: input adalah sasaran pendidikan (individu, kelompok, masyarakat) dan pendidik (pelaku pendidikan); proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain); output (melakukan apa yang diharapkan atau perilaku).

Perubahan perilaku yang belum atau tidak kondusif ke perilaku yang kondusif ini mengandung berbagai dimensi berikut ini:

1). Perubahan perilaku

Perubahan perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesehatan, atau dari perilaku negatif ke perilaku positif.

2). Pembinaan perilaku

Terutama ditujukan kepada perilaku masyarakat yang sudah sehat agar dipertahankan.

3). Pengembangan perilaku

Terutama ditujukan untuk membiasakan hidup sehat bagi anak-anak. Menurut penyebab terbentuknya, pendidikan kesehatan dibagi menjadi tiga yaitu :

a) Pendidikan kesehatan dalam faktor predisposisi

Pendidikan kesehatan ditujukan untuk menggugah kesadaran, meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pemeliharaan dan peningkatan kesadaran, bentuknya berupa penyuluhan kesehatan.

b) Pendidikan kesehatan dalam faktor-faktor enabling

Ini berupa fasilitas atau sarana dan prasarana kesehatan, maka bentuk pendidikan kesehatannya adalah memberdayakan masyarakat agar mereka mempu mengadakan sarana dan prasarana kesehatan bagi mereka. Bentuknya seperti polindes, pos obat desa, dan sebagainya.

c) Pendidikan kesehatan dalam faktor “reenforcing”

Bentuk pendidikan kesehatan adalah dalam bentuk pelatihan bagi toga, toma, dan petugas kesehatan sendiri (Notoadmodjo, 2003)

  1. Ruang lingkup pendidikan kesehatan

Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari tiga dimensi, yaitu:

1). Berdasarkan aspek kesehatan, dikelompokkan menjadi:

a) Pendidikan kesehatan pada aspek promotif, sasarannya adalah kelompok orang sehat. Derajat kesehatannya adalah dinamis oleh karena itu meskipun seseorang telah dalam kondisi sehat tetapi perlu ditingkatkan dan dibina lagi kesehatannya.

b) Pendidikan kesehatan pada aspek pencegahan dan penyembuhan, dan ini mencakup tiga upaya atau kegiatan yaitu :

(1) Pencegahan tingkat pertama (primary prevention), sasarannya adalah kelompok masyarakat yang beresiko tinggi (high risk). Misalnya: kelompok ibu hamil, para pekerja seks, dan sebagainya. Tujuannya agar tidak terkena penyakit.

(2) Pencegahan tingkat kedua (secondary prevention), sasarannya adalah para penderita penyakit kronis. Misalnya: asma, diabetes militus, dan sebagainya. Tujuannya agar penderita mampu mencegah penyakitnya menjadi tidak parah.

(3) Pencegahan tingkat tiga (tertiary prevention), sasaranya adalah kelompok pasien yang baru sembuh dari suatu penyakit. Tujuannya agar mereka segera pulih kembali kesehatannya.

2). Berdasarkan tatanan (setting) atau tempat pelaksanaannya

Pendidikan kesehatan dapat berlangsung diberbagai tempat, dan dikelompokkan menjadi: pendidikan kesehatan pada tatanan keluarga (rumah tangga), pendidikan kesehatan pada tatanan sekolah, pendidikan kesehatan di tempat-tempat kerja, pendidikan di tempat-tempat umum.

3). Berdasarkan Tingkat Pelayanan Pendidikan Kesehatan

Dimensi tingkat pelayanan, pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan 5 tingkat pencegahan dari Leavel dan Clark, sebagai berikut :

a) Promosi kesehatan (health promotion), Dalam tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan misalnya dengan peningkatan gizi, kebiasaan hidup sehat dan sebagainya.

b) Perlindungan khusus (specific protection), Dalam program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus ini pendidikan kesehatan sangat diperlukan terutama di negara berkembang. Hal ini karena kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi.

c) Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment). Dikarenakan rendahnya pengetahauan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan maka sering sulit mendeteksi penyakit yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu pendidikan kesehatan sangat diperlukan pada tahap ini.

d) Pembatasan cacat (disability limitation). Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan penyakit maka sering tidak melanjutkan pengobatannya sampai tuntas sehingga dapat mengakibatkan orang bersangkutan cacat.

e) Rehabilitasi (rehabilitation), setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu, kadang orang menjadi cacat sehingga diperlukan latihan tertentu. Disamping itu orang yang cacat setelah sembuh dari penyakit, kadang malu untuk kembali ke masyarakat dan masyarakat tidak mau menerima mereka (Notoadmodjo, 2003).

  1. Metode pendidikan kesehatan

Metode pendidikan kesehatan dibagi menjadi tiga, yaitu:

1). Metode pendidikan individual (perorangan), bentuk pendekatannya, antara lain :

a) Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counceling), dengan cara ini kontak antara klien dengan petugas lebih intensif. Akhirnya klien tersebut berdasarkan kesadaran, dan penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut (mengubah perilaku).

b) Wawancara (interview), wawancara antara petugas kesehatan dengan klien untuk menggali informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubahan, untuk mengetahui apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat.

2). Metode pendidikan kelompok, metode ini dibagi menjadi dua:

a) Kelompok besar, apabila peserta penyuluhan lebih dari 15 orang metode yang digunakan ceramah dan seminar.

b) Kelompok kecil, apabila peserta kurang dari 15 orang, metode yang digunakan adalah diskusi, curah pendapat (brain storming), kelompok kecil (buzz group), memainkan peran (role play).

3). Metode pendidikan massa

Metode pendidikan (pendekatan) cocok untuk mengkomunikasikan pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat dan bersifat umum. Pada umumnya bentuk pendekatannya tidak langsung, metode yang cocok adalah: ceramah umum (public speaking), pidato atau diskusi melalui media elektronik, tulisan di majalah atau koran, dan sebagainya.

(Notoadmodjo, 2003)

f. Langkah – langkah pendidikan kesehatan

Menurut Machfoedz, 2006 langkah-langkah pelaksanaan pendidikan kesehatan berlangsung berdasarkan urutan:

1). Perencanaan, adalah suatu hal yang amat penting sukses tidaknya suatu langkah kegiatan sangat tergantung bagus dan tidaknya program. Langkah-langkah pembuatan perencanaan adalah :

a) Pengumpulan data, mengolah, menyajikan, serta menginter-pretasikan demikian rupa sehingga menjadi jelas.

Data yang diperlukan disini adalah pertama data yang memberikan gambaran tentang masalah kesehatan. Kedua adalah data yang memberi gambaran mengenai organisasi pelaksana. Data yang dapat memberikan gambaran masalah kesehatan seperti halnya:

(1).Data geografis, yakni luas wilayah, batas wilayah, keadaan iklim, keadaan tanah, mengenai sungai, danau, gunung, dan sebagainya.

(2).Data pemerintah, yakni struktur pemerintahan, personalia dan hak serta kewajibannya.

(3).Data penduduk, misalnya jumlah penyebaran, jenis kelamin, angka kelahiran, angka kesuburan, angka kematian, angka harapan hidup. Ini penting untuk mengukur bentuk penyakit dan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah kesehatan.

(4).Data mata pencaharian dan pendapatan, misalnya pekerjaan, tingkat penghasilan dan pengeluaran.

(5).Data sosial budaya, seperti kebiasaan hidup, norma, pendangan masyarakat, anjuran dan pantangan.

(6).Data pendidikan, yakni tingkat pendidikan, sarana pendidikan yang ada.

(7).Data status kesehatan, lingkungan dan kegiatan sarana kesehatan, seperti angka kematian, angka kematian bayi, angka kematian ibu, dan lain-lain.

b) Menetapkan prioritas masalah kesehatan yang perlu segera ditanggulangi. Yang sering dilakukan adalah pertama menggunakan scoring, diantaranya menggunakan parameter seperti berat ringannya masalah, jumlah masyarakat yang terkena, kenaikan angka penyakit, rasa prihatin masyarakat terhadap masalah, sumber yang tersedia. Yang kedua menggunakan nomincal group technique (nonscoring). Menggunakan delphi technique maksudnya permasalahan diperoleh dari kesepakatan dari sekelompok orang yang sama keahliannya untuk masalah yang sedang dibicarakan. Delbeg technique maksudnya pemasalahan ditentukan oleh sekelompok masyarakat yang tidak sama pengetahuannya tentang pokok persoalan yang dibicarakan tapi sebelumnya dijelaskan dulu tentang masalah yang sedang dibicarakan.

c) Rencana kerja, ialah menetapkan berbagai cara jalan keluar, langkah-langkah apa dan bagaimana untuk mengatasi prioritas masalah tersebut. Rencana kerja harus tercantum antara lain: tujuan pendidikan kesehatan yang ingin dicapai, metode pendidikan kesehatan yang akan digunakan, materi pendidikan kesehatan yang akan disampaikan.

d) Menyusun rencana terpadu atau memadukan rencana pendidikan kesehatan dengan seluruh program kerja yang akan dilakukan.

2). Penilaian, yang harus dicantumkan adalah:

a) Penetapan tujuan penilaian, perilaku kesehatan sejauh mana yang akan dinilai sebagai hasil perubahan perilaku sehat yang dikehendaki.

b) Penetapan waktu melakukan penilaian, dilaksanakan saat kapan program sedang berjalan bila ada kekurangan segera dapat diperbaharui ini disebut penilaian promotif. Penilaian sumatif yakni dilaksanakan setelah waktu program berakhir.

c) Penetapan instrumen yang digunakan untuk penilaian bisa berupa wawancara, pemeriksaan terhadap instrumen yang diguunakan, pengamatan dan peran serta.

d) Menetapkan cara menarik kesimpulan dari hasil yang dicapai.

e) Penetapan ruang lingkup yang akan dinilai.

f) Penetapan ukuran yang dicapai dalam menetapkan hasil program.

g. Alat bantu pendidikan kesehatan

Alat bantu pendidikan adalah alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pendidikan atau pengajaran. Alat ini lebih sering disebut sebagai alat peraga, karena berfungsi untuk membantu dan meragakan sesuatu dalam proses pendidikan pengajaran.

Faedah alat bantu pendidikan kesehatan adalah :

1). Menimbulkan minat sasaran pendidikan.

2). Mencapai sasaran yang lebih banyak.

3). Membantu dalam mengatasi banyak hambatan dalam pemahaman.

4). Merangsang sasaran pedidikan untuk meneruskan pesan-pesan kesehatan

5). Mempermudah menyampaikan bahan pendidikan atau informasi oleh pendidik atau pelaku kesehatan.

6). Mempermudah penerimaan informasi oleh sasarn pendidik.

7). Mendorong keinginan orang untuk mengetahui, kemudian lebih mendalami dan akhirnya memberiakn pengertian yang lebih baik.

8). Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh.

Macam-macam alat bantu pendidikan

1). Alat bantu lihat (visual aids), alat ini berguna membantu menstimulasikan indra mata (penglihatan) pada waktu terjadinya proses pendidikan.

2). Alat-alat bantu dengar (audio aids), ialah alat yang dapat membantu menstimulasikan indra pendengar pada waktu proses penyampaian bahan pendidikan atau pengajaran. Misalnya piringan hitam, radio, pita suara dan sebagainya.

3). Alat bantu lihat-dengar (audio visual aids), alat bantu pendidikan ini lebih dikenal dengan AVA (Audio Visual Aids) seperti televisi dan video cassete.

Disamping pembagian tersebut alat peraga juga dapat dibedakan menjadi dua macam menurut pembuatannya dan penggunaannya.

1). Alat peraga yang rumit (complicate), seperti film, film strip slide dan sebagainya yang memerlukan listrik dan proyektor.

2). Alat peraga yang sederhana, yang mudah dibuat sendiri, dengan bahan-bahan setempat yang mudah diperoleh.misalnya di rumah tangga seperti leaflet, model buku bergambar benda-benda yang nyata. Di kantor-kantor dan sekolah-sekolah, seperti papan pengumuman, poster, leaflet, buku cerita dan sebagainya. Di masyarakat umum seperti poster spanduk, leaflet dan sebagainya (Notoadmodjo, 2003).

1 komentar: